Tampilkan postingan dengan label ANEKA WARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANEKA WARA. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 10 Oktober 2009
Selasa, 09 Juni 2009
HILANGNYA BAHASA IBU
Penelitian telah menyebutkan bahwa setiap hari kita kehilangan bahasa ibu.
Majunya teknologi komunikasi yang ada sekarang, tanpa kita sadari juga telah ikut andil dalam penghilangan bahasa ibu.. Dengan Perkembangan teknologi komunikasi memang semakin memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain yang beda tempat, beda daerah, suku, bangsa, bahkan benua. tetapi untuk berkomunikasi dengan orang yang beda suku beda negara dll, kita dituntut untuk menggunakan bahasa universal yang dimengerti oleh orang yang beda suku, negara maupun benua tersebut. Sehingga tidak mungkin kita berkomunikasi dengan orang yang beda negara dengan bahasa ibu yang kita miliki. Demikian sebaliknya mereka juga tidak mungkin menggunakan bahasa ibiu yang mereka miliki ketika berkomunikasi dengan kita. Mau tidak mau kita harus menggunakan bahasa yang lebih universal. Bahasa Inggris misalnya, atau bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan sesama orang Indonesia tetapi berlainan suku atau daerah.
Hilangnya bahasa ibu, selain diipengaruhi oleh berkembangan teknologi komunikasi juga dipengruhi pola hidup manusia jaman sekarang. Dulu orang tua kita mempunyai motto “mangan ora mangan sing penting kumpul” (Makan atau tidak yang penting kumpul) Jadi mereka lebih mementingkan kebersamaan, walaupun mereka hanya memperoleh rejeki yang pas-pasan. Otomatis setiap hari mereka hidup dalam satu lingkungan yang membesarkan meraka bersama orang sesama suku, sesama saudara yang menggunakan bahasa ibu yang sama. Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan keadaan sekarang. Orang sekarang lebih mementingkan rejeki daripada sekedar berkumpul. Dimanapun bekerja dan bertempat tinggal tidak menjadi masalah.
Selepas kepergian mereka dari lingkungan yang mereka diami selama ini, kini mereka harus bergaul dengan orang-orang baru, yang tidak mengerti bahasa ibu kita dan kita juga tidak tau bahasa ibu mereka. Dalam keadaan seperti ini bahasa universal tentu akan menjadi jembatan komunikasinya.
Media Massa tentu saja juga besar andilnya dalam hal hilangnya bahasa ibu. Terlebih media nasional dan internasional yang mau tidak mau harus menggunakan bahasa yang lebih universal agar dapat dinikmati oleh semua orang.
Celakanya sekarang dalam pergaulan kita sehari-hari, tidak jarang kita juga memilih menggunakan bahasa universal daripada bahasa ibu, walaupun kita berbicara dengan orang yang mempunyai bahasa ibu yang sama.
Tidak salah memang kita menggunakan bahasa yang lebih universal. Apalagi bahasa universal juga telah menjembatani komunikasi kita. Dengan bahasa yang universal kita bias berkomunikasi dengan orang – orang di berbagai belahan dunia.
Tapi jangan lupa, semakin sering kita berkomunikasi dengan bahasa universal, semakin cepat juga bahasa ibu berkurang.
Masalahnya bagaimana cara kita menjaga bahasa ibu ?
Di dunia yang serba canggih, seperti sekarang ini mempertahankan bahasa ibu memang tidak mudah. Tapi kita harus yakin bahwa masih ada peluang yang bisa kita manfaatkan.
Yang merantau ketempat yang berlainan bahasa ibu jangan segan segan iuntuk saling bertukar pengetahuan bahasa ibunya masing-masing.
Media masa juga bias menyisipkan bahasa ibu dalam produknya
Selalu berbahasa dengan bahasa ibu ketika berbicara dengan orang yang berbahasa ibu yang sama.
Membuat tulisan di inertnet dengan bahasa ibu
Dll
Mari kita gali cara untuk terus melestarikan bahasa ibu.
Majunya teknologi komunikasi yang ada sekarang, tanpa kita sadari juga telah ikut andil dalam penghilangan bahasa ibu.. Dengan Perkembangan teknologi komunikasi memang semakin memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain yang beda tempat, beda daerah, suku, bangsa, bahkan benua. tetapi untuk berkomunikasi dengan orang yang beda suku beda negara dll, kita dituntut untuk menggunakan bahasa universal yang dimengerti oleh orang yang beda suku, negara maupun benua tersebut. Sehingga tidak mungkin kita berkomunikasi dengan orang yang beda negara dengan bahasa ibu yang kita miliki. Demikian sebaliknya mereka juga tidak mungkin menggunakan bahasa ibiu yang mereka miliki ketika berkomunikasi dengan kita. Mau tidak mau kita harus menggunakan bahasa yang lebih universal. Bahasa Inggris misalnya, atau bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan sesama orang Indonesia tetapi berlainan suku atau daerah.
Hilangnya bahasa ibu, selain diipengaruhi oleh berkembangan teknologi komunikasi juga dipengruhi pola hidup manusia jaman sekarang. Dulu orang tua kita mempunyai motto “mangan ora mangan sing penting kumpul” (Makan atau tidak yang penting kumpul) Jadi mereka lebih mementingkan kebersamaan, walaupun mereka hanya memperoleh rejeki yang pas-pasan. Otomatis setiap hari mereka hidup dalam satu lingkungan yang membesarkan meraka bersama orang sesama suku, sesama saudara yang menggunakan bahasa ibu yang sama. Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan keadaan sekarang. Orang sekarang lebih mementingkan rejeki daripada sekedar berkumpul. Dimanapun bekerja dan bertempat tinggal tidak menjadi masalah.
Selepas kepergian mereka dari lingkungan yang mereka diami selama ini, kini mereka harus bergaul dengan orang-orang baru, yang tidak mengerti bahasa ibu kita dan kita juga tidak tau bahasa ibu mereka. Dalam keadaan seperti ini bahasa universal tentu akan menjadi jembatan komunikasinya.
Media Massa tentu saja juga besar andilnya dalam hal hilangnya bahasa ibu. Terlebih media nasional dan internasional yang mau tidak mau harus menggunakan bahasa yang lebih universal agar dapat dinikmati oleh semua orang.
Celakanya sekarang dalam pergaulan kita sehari-hari, tidak jarang kita juga memilih menggunakan bahasa universal daripada bahasa ibu, walaupun kita berbicara dengan orang yang mempunyai bahasa ibu yang sama.
Tidak salah memang kita menggunakan bahasa yang lebih universal. Apalagi bahasa universal juga telah menjembatani komunikasi kita. Dengan bahasa yang universal kita bias berkomunikasi dengan orang – orang di berbagai belahan dunia.
Tapi jangan lupa, semakin sering kita berkomunikasi dengan bahasa universal, semakin cepat juga bahasa ibu berkurang.
Masalahnya bagaimana cara kita menjaga bahasa ibu ?
Di dunia yang serba canggih, seperti sekarang ini mempertahankan bahasa ibu memang tidak mudah. Tapi kita harus yakin bahwa masih ada peluang yang bisa kita manfaatkan.
Yang merantau ketempat yang berlainan bahasa ibu jangan segan segan iuntuk saling bertukar pengetahuan bahasa ibunya masing-masing.
Media masa juga bias menyisipkan bahasa ibu dalam produknya
Selalu berbahasa dengan bahasa ibu ketika berbicara dengan orang yang berbahasa ibu yang sama.
Membuat tulisan di inertnet dengan bahasa ibu
Dll
Mari kita gali cara untuk terus melestarikan bahasa ibu.
SEHAT DARI DIRI KITA SENDIRI
SEHAT DARI DIRI KITA
Siapapun yang hidup didunia ini, saya yakin pasti menginginkan kehidupannya berjalan dengan sehat baik secara ragawi mauoun rohani. Untuk menuju kesana saya punya tips sederhana yang sangat bermanfaat .
Tips tersebut terdiri dari 4 huruf, yaitu PISS. Singkatan dari Pasrah, Iklas, Sodakoh, Senyum.
PASRAH
Kita harus ingat bahwa semua yang terjadi pada diri kita tak lepas dari kehendak Yang Maha Kuasa. Untuk itu sebagai manusia kita berkewajiban berbuat semaksimal mungkin, tapi soal hasil pasrahkan saja pada Tuhan. Kita boleh berrencana dan bercita-cita, Tapi Yang Maha Esa, pasti lebih tau yang terbaik untuk kita.
IKLAS
Menerima semua yang telah digariskan oleh Tuhan dengan lapang dada, dan jangan pernah menganggap bahwa keputusan Alloh tidak ada manfaatnya. Kadang-kadang keputusan Tuhan tidak sesuai dengan yang kita inginkan, tapi kita harus yakin seyakin – yakinnya bahwa keputusan Alloh itu yang terbaik buat kita. Jadi iklaskan hati, jiwa dan raga kita kepada Alloh.
SODAKOH
Secara matematika idealnya semakin banyak kita memberi, maka akan semakin banyak pengeluaran kita. Tapi Tuhan mempunyai perhitungan lain. Semakin banyak kita berderma, maka akan semakin bersih rejeki yang kita terima. Ingat bahwa dari rejeki yang kita peroleh ada hak orang lain didalamnya. Hak orang lain tersebut harus kita berikan kepada yang berhak. Karena kalua tidak berarti kita telah merampas sesuatu yang bukan hak kita. Padahal semakin banyak memakan sesuatu yang bukan hak kita, berarti tubuh kita semakin banyak terkotori oleh sesuatu yang tidak baik. Maka banyak-banyaklah memberi, untuk mensterilkan rejeki yang kita terima.
SENYUM
Berikan senyum yang menyenangkan kepada siapapun. Kerena dengan senyum yang menyenangkan berarti kita telah menyenangkan orang lain. Ketika kita bisa menyenangkan orang lain maka orang lain juga akan menyenangkan kita. Jika kita selalu merasa senang maka tubuh kita berarti telah teraliri energi yang baik.
Memang tidak semua orang mampu melakukan itu, bahkan saya sendiri juga belum sepenuhnya mampu melakukannya. Tapi percayalah kalau kita bisa melakukannya, hidup kita pasti akan lebih baik. Piss…..
Siapapun yang hidup didunia ini, saya yakin pasti menginginkan kehidupannya berjalan dengan sehat baik secara ragawi mauoun rohani. Untuk menuju kesana saya punya tips sederhana yang sangat bermanfaat .
Tips tersebut terdiri dari 4 huruf, yaitu PISS. Singkatan dari Pasrah, Iklas, Sodakoh, Senyum.
PASRAH
Kita harus ingat bahwa semua yang terjadi pada diri kita tak lepas dari kehendak Yang Maha Kuasa. Untuk itu sebagai manusia kita berkewajiban berbuat semaksimal mungkin, tapi soal hasil pasrahkan saja pada Tuhan. Kita boleh berrencana dan bercita-cita, Tapi Yang Maha Esa, pasti lebih tau yang terbaik untuk kita.
IKLAS
Menerima semua yang telah digariskan oleh Tuhan dengan lapang dada, dan jangan pernah menganggap bahwa keputusan Alloh tidak ada manfaatnya. Kadang-kadang keputusan Tuhan tidak sesuai dengan yang kita inginkan, tapi kita harus yakin seyakin – yakinnya bahwa keputusan Alloh itu yang terbaik buat kita. Jadi iklaskan hati, jiwa dan raga kita kepada Alloh.
SODAKOH
Secara matematika idealnya semakin banyak kita memberi, maka akan semakin banyak pengeluaran kita. Tapi Tuhan mempunyai perhitungan lain. Semakin banyak kita berderma, maka akan semakin bersih rejeki yang kita terima. Ingat bahwa dari rejeki yang kita peroleh ada hak orang lain didalamnya. Hak orang lain tersebut harus kita berikan kepada yang berhak. Karena kalua tidak berarti kita telah merampas sesuatu yang bukan hak kita. Padahal semakin banyak memakan sesuatu yang bukan hak kita, berarti tubuh kita semakin banyak terkotori oleh sesuatu yang tidak baik. Maka banyak-banyaklah memberi, untuk mensterilkan rejeki yang kita terima.
SENYUM
Berikan senyum yang menyenangkan kepada siapapun. Kerena dengan senyum yang menyenangkan berarti kita telah menyenangkan orang lain. Ketika kita bisa menyenangkan orang lain maka orang lain juga akan menyenangkan kita. Jika kita selalu merasa senang maka tubuh kita berarti telah teraliri energi yang baik.
Memang tidak semua orang mampu melakukan itu, bahkan saya sendiri juga belum sepenuhnya mampu melakukannya. Tapi percayalah kalau kita bisa melakukannya, hidup kita pasti akan lebih baik. Piss…..
Jumat, 05 Juni 2009
NO SMOKING

Untuk berhenti merokok, bagi yang sudah kecanduan memang sulit. Tapi sesulit apapun bukan berarti tidak mungkin kan ?!!
1. Kuatkan niat untuk berhenti dari kebiasaan merokok
2. Yakikan hati kita bahwa kita mampu untuk tidak merokok
3. Untuk sementara jangan bergaul dengan perokok
4. Jangan hanya mengurangi, tapi langsung berhenti sekalian.
5. Usahakan tidak melakukan kegiatan yang mengingatkan kita pada kegiatan merokok
6. katakan pada teman-teman anda bahwa anda sudah berhenti merokok.
7. Ingat bahwa kegiatan merokok adalah kegiatan yang merugikan kesehatan.
8. Kalu timbul keinginan untuk merokok lagi, alihkan perhatian anda.
9. Selalu pertahankan niat.
Dengan tidak merokok, anda telah melakukan penghematan ratusan ribu setiap bulannya. Semoga sukses.
Minggu, 21 September 2008
TRADISI SAWANG GATI Desa Jati, terletak di bagian utara wilayah kabupaten purworejo, berjarak kurang lebih 19 kilo meter dari pusat kota Kabupaten। Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani dan peternak, sebagian lagi sebagai pedagang, PNS, buruh dan lain - lain। Suasana penuh kegotong royongan, itulah ciri yang sangat khas dari warga masyarakat desa yang wilayahnya berbatasan dengan desa Mayung Sari, Kali Jambe, Kamijoro, serta Medono tersbut. Walaupun tidak terlalu signifikan, dari tahun ke tahun desa ini selalu mengalami kemajuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya berbagai sarana dan prasana yang telah dimiliki. Untuk sarana pendidikan desa jati memiliki sebuah gedung sekolah dasar yang cukup megah, untuk menunjang sarana transportasi, desa Jati telah berhasil membangun jalan aspal sepanjang 900 meter yang di bangun pada tahun 2005. Pada tahun 2006 kembali di bangun sarana jalan yang menghubungkan desa tersebut dengan desa Mayung sari. Kemudian pada tahun 2007 Pemerintah Desa berhasil membangun jalan rabat beton di sisi selatan desa tersebut, yaitu di dusun Jangkang. Untuk sarana peribadatan saat ini tengah diselesaikan pembangunan Mushola dengan bangunan bertingkat. Pembangunan mushola tersebut hingga saat ini telah menhabiskan biaya sebesar 46 juta rupiah. Dari segi pertanian Desa ini memiliki tiga kelompok tani. Ketiga kelompok tani tersebut masing - asing ikut andil dalam rangka mendukungkemajuan sektor pertanian di Desa yang seluruh warganya menganut agama islam ini. Lebih jauh kalau kita berbicara tentang pertanian, Desa Jati merupakan salah satu penghasil durian, kelapa, kokosan, langsat, duku, salak pondoh, melinjo, petai, jengkol dan lain – lain. Bagi Anda penggemar durian, Desa Jati juga merupakan penghasil durian kususnya di wilayah Purworejo bagian utara. Walaupun selama ini Desa Jati tidak termasuk dalam peta penghasil durian di Kabupaten Purworejo, namun durian yang berasal dari desa ini terkenal lebih enak, karena semua durian yang hasilkan semuanya merupakan durian masak pohon. TRADISI SAWANG GATI Desa Mawa Cara. Begitulah pepatah yang paling tepat untuk mengungkapkan aneka ragam tradisi yang ada dalam masyarakat. Hingga saat ini tampaknya sebagian besar masyarakat kita, masih belum bisa meninggalkan tradisi warisan nenek moyang yang di wariskan secara turun temurun. Hal ini terbukti dengan adanya kebiasaan dari jaman dahulu yang tetap dipepetri hingga saat ini. Tradisi – tradisi tersebut bermacam – macam bentuk dan cara pelaksanaan, serta waktu pelaksanaannya. Namun secara umum tujuannya sama, yaitu sebagai perwujudan rasa syukur atas segala nikmat yang telah diterima dari Yang Maha Kuasa. Salah satu tradisi yang masih dipegang oleh warga masyarakat adalah Tradisi Sawang gati. Tradisi Sawang Gati ini telah dilaksanakan secara turun temurun oleh warga Desa Jati, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo. Dan untuk tahun ini telah dilaksanakan pada hari sabtu pahing tanggal 23 Februari 2008 yang lalu, atau 15 Sapar berdasarkan penanggalan jawa islam dan 16 sapar menurut penanggalan jawa kuna atau lazim disebut Aboge. BERHARAP BRKAH Seperti halnya grebeg di Yogyakarta atau Jolen di Kali gesing, tradisi Sawang Gati juga dimanfaatkan oleh warga untuk berharap berkah. Hanya saja caranya yang berbeda, bukan dengan cara berebut tumpeng, namun dengan cara sedekah. Orang yang bersedekah dalam tradisi ini bniasa disebut Nyawang Gati. Caranya menyerahkan sejumlah uang kepada panitia yang telah ditunjuk, Setelah beberapa orang Nyawang gati, kemudian Wiyaga menabuh gamelan dan Ledek mulai nayub. Demikian seterusnya. Sementara itu uang sedekah yang terkumpul biasanya digunakan untuk pemeliharaan dan pembangunan Makam Kiai Sawang gati, yang letaknya di Astana Kembar di tengah Desa tersebut. Orang yang nyawang Gati tak hanya dari Jesa Jati maupun Desa - Desa sekitar. Ada juga yang sengaja datang dari luar daerah, salah satunya yang sempat saya temua adalah Bapak Giyanto. Beliau sengaja datang dari Pelelawan, Pekan Baru sengaja datang untuk Nyawang gati. "Ya mudah - mudahan saya diberi keselamatandan rejeki, tapi yang utama ya keselamatan itu" demikian dikatakanya. Selain itu Orang yang Nyawang gati biasanya orang yang mempunyai Nadzar. Tentang siapa sebenarnya Kiai Sawang Gati, Bapak Adi Selo, Sesepuh sekaligus mantan Bekel di Desa itu, menurutnya Kiai Sawang Gati dulunya adalah orang yang tetruka hingga terbentuknya desa Jati. Semasa hidupnya Kiai sawang Gati sangat gemar dengan Tayub atau Ledek.
Langganan:
Postingan (Atom)